rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Rabu, 18 Mei 2016

GET LOST IN THAILAND part 2

             “Tik ... tok ... tik ... tok ...”, bunyi jam dinding di kamar saat itu menunjukan pukul 02.00 pagi. Hawa di sini rasanya panas sekali. Ku buka satu kelopak mataku yang berat, ku lihat Jisun traveler asal Korea yang menjadi teman sekamarku ini tidur pulas tanpa selimut. Aku berusaha mencari remot AC tanpa membangunkan Jisun. Aha... itu dia. Di sebuah meja di samping Jisun. Kuturunkan suhu AC, rasanya lega sekali kali ini udara mulai dingin setidaknya dikamar tempat kami tidur. Kulanjutkan tidur entah beberapa saat kemudian aku menyadari Jisun mencari-cari selimut. Mungkin Jisun mulai kedinginan, pikirku. Maafkan aku Jisun tapi aku kepanasan, hehe. Kulitku emang agak sensitif kalo di tempat panas, itu alasannya aku selalu membawa bedak Herosin / Salisil didalam wadah kaleng berbentuk silinder. Kaleng bedak Herosin ini yang sempat bikin aku deg-deg-kan waktu melewati pemeriksaan sinar X di bagian imigrasi. Pasalnya, tas backpackku sempat di geledah oleh petugas imigrasi karena terdapati  kaleng berisi bubuk dalam jumalah yang agak banyak dan bertuliskan “HEROSIN” kalo yang curiga tingkat dewa pasti mikir itu “HEROIN” dalam kaleng “HEROSIN”.  Fyuuuhh.... Tapi syukurnya petugas imigrasi mengerti setelah ku jelaskan bahwa itu adalah obat berbentuk bubuk untuk kulit sensitif. Dasar kulit manja.

            Jam 5 subuh aku bangun. Agak aneh rasanya pagi itu, ku pikir-pikir apa yang aneh ya? Ah... subuh di sini tidak terdengar suara adzan. Ya! Itu yang membuatku merasa aneh untuk sesaat. Aku lupa kalo aku sedang di negeri orang. Haha, bodoh! Aku sudah tidak bisa tidur lagi, ku putusakan untuk tetap terjaga hingga matahari bersinar lebih terang. Sambil cek beberapa notifications yang masuk ke HP. Bebrapa jam kemudian Jisun bangun. “Halo Jisun, good morning. Did you sleep well?” Sapaku sambil tersenyum. “hi Fatimah. Yes I did. And now i’m hungry. Do you?”,  Jisun membalas. Haha. Tau aja nih bocah kalo aku laper. Akhirnya kami memutuskan untuk makan sop ayam di samping rumah Uncle sang host couchsurfing setelah memastikan bahwa makanan itu halal.

            “I like spicy food Fatimah, how about  you?” kata Jisun sambil menambahkan banyak sekali potongan cabai rawit kedalam makanannya. Aku agak sedikit shock melihat ini, pasalnya ini masih pagi tapi Jisun makan cabai rawit seperti makan remahan bubuk rengginang. “Yes, sure I love spicy too. My country has a lot of herbs and spicies. So I get used to eat lots spicy food. But, now here in Thailand I prefer to not eat too much spicy food. I don’t wanna rush my trip because of my stomache”.  Jawabku sambil menikmati sup ayam ini. Enak vroh rasanya.
Jisun dan sarapannya

Sarapan pagi Jisun

            Selesai makan kami kembali ke rumah Uncle. Aku mulai mengemas barangku karena jam mulai menunjukan pukul 9 pagi. Tiba-tiba sebuah pesan masuk. “hey Fatimah. It’s Gerald. Where are you? I’m in Bangkok now and will leave Bangkok this afternoon. So, do you have time to meet me before I leave? ” sebuah pesan masuk dari seorang teman asal Chilie yang pernah bermalam ditempatku beberapa waktu lalu di Bandung. “Yeah, sure Gerald! How about meet up around Victory Monument at 9? I’ll be there soon.” Balasku sangat bahagia. Tidak menyangka bahwa kami akan bertemu kembali di tempat ini. Geraldine adalah solo traveler wanita dari Chilie yang menurutku sangat berani. Ia datang dari negara Chilie kemudian belajar di China, traveling ke Indonesia, Hongkong, Norway, Russian, Thailand, dan Mexico. Luar biasa. Sungkem aku sama Gerald. Aku banyak mengambil pelajaran dari Gerald, bisa dibilang aku ngebolang di Thailand sendiri ini karna terinspirasi oleh Gerald. Makasih loh Gerald. J

            Setelah mandi dan mengemas barang, aku berpamitan dengan Jisun. “I’m going to Pattaya. I hope I can see you in ... let us say somewhere out there that we don’t know. Haha. Thank you for being such as my best room mate ever. Please leave your address so I can send you something from Indonesia, and I can visit you one day Jisun.” Kataku sambil menahan sedih. “Fatimah... you’re so lovely girl.” Kata Jisun sambil memeluku erat. “Please keep in touch. I’ll send you my address. And you are very welcome to my place. I won’t forget you, even we only have one night to know each other. But I’m so happy to know you. I hope you travel a lot. Thank you.” lanjut Jisun. Aku melihat binar air mata Jisun yang sebenarnya dalam hitungan detik mulai tumpah. Setelah berpelukan dan berharap dapat bertemu satu sama lain. Akhirnya kami berpisah. Aku menuruni setiap anak tangga yang menjauhi Jisun dengan perasaan kehilangan yang amat sedih.

Kemudian aku menemui keluarga Uncle untuk berpamitan karna setelah pulang dari Pattaya nanti aku tidak anak tinggal dirumahnya lagi. Sayangnya Uncle sudah berangkat kerja. Mo, Sister dan Brother yang akrab ku sapa dengan sebutan itupun juga tidak ada di rumah, mereka beraktifitas dihari senin seperti kebanyakan orang. Jadi yang kutemui hanya Aunty istrinya Uncle. Hal yang sama seperti aku dan Jisun, terjadi dengan Aku dan Aunty. Ah... sedih rasanya mengingat kembali hal ini. Keluarga yang sangat baik dan hangat menerimaku. Aku melangkahkan kaki menjauhi rumah Uncle menuju halte bus. Hal yang paling menyedihakan dari pertemuan adalah perpisahan. Mungkin kata-kata itu yang dapat mewakili suasana pada saat itu.

            Asap kendaraan di sini tak berbeda dengan polusi di kota-kota besar kebanyakan seperti di Indonesia. Aku naik bis ke arah Victory Monumen dimana aku akan bertemu 2 kawan travelerku Geraldine dan Brikson. Aku meninggalkan semua perasaan sedihku dan menggantinya dengan perasaan penuh harap bisa menemukan cerita hidup traveler lebih seru di depan sana. Ya... ini adalah proses dari perjalanan.

Sesampainya di Victory Monument (sebuah tempat di pusat kota Bangkok, terdapat sebuah monumen yang melambangkan kebebasan) terdapat sky walk yang sangat panjang memutari monumen itu. Sky walk ini beneran panjang dan memusingkan. Tips ku jangan pernah janjian di tempat ini jika kau tidak bisa menyebutkan tempat spesifik untuk bertemu. Karna sky walk ini sangat panjang dan sangat mengeluarkan banyak energi untuk berjalan dari ujung ke ujung lagi atau juga kau bisa tersesat seperti apa yang kualami. Untuk bertemu Geraldine aku mengeluarkan senjata andalanku. Google map. Yep! Lumayan ampuh ini senjata. Akhirnya aku bertemu dengan Geraldine di atas sky walk yang panjang dan membingungkan itu. PR selanjutnya adalah menemukan Brikson. Posisi brikson yang berada di bawah sky walk sempat membingungkan kami. Bener-bener menghabiskan tenaga. Aaakkk.... sup ayam yang kumakan pagi ini habislah sudah sarinya karna jalan-jalan di sky walk ini. Brikson mengubungiku dengan nada kesal ditambah nada tinggi ala batak-nya itu, sudah kuduga ia mulai kesal menunggu kami yang ‘tersesat’ di atas sky walk ini, di tambah udara panas terik yang membuatmu ingin melepaskan kepalamu untuk di rendam di dalam tumpukan es batu kalau bisa. Percayalah udaranya sangat terik. Kulit sensitif nan manja ini pun sudah mulai menggelitikku sejak tadi.  Kuharap kulit ini mengerti bukan saat yang tepat untuk meradang di saat seperti ini. Setelah sama-sama kesal. Akhirnya kami bertemu. Terimakasih Tuhan.

Sudah tak tahan dengan panas terik ini akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam mall yang tidak jauh dari sana untuk duduk menikmati sesuatu yang bisa dinikmati di dalam ruangan ber AC. Kami duduk dan memesan minuman dingin. Manjur juga rupanya minuman dingin ini membuat kepala jadi dingin juga. Kami bercakap-cakap disana. Brikson kukenalkan pada Gerald, Gerald ku kenalkan pada Brikson. Brikson banyak bertanya pada Gerald bagaimana rupanya aku dan gerald bisa saling mengenal dan bisa saling bertemu. Gerald menjelaskan bahwa ia pernah tinggal di Bandung, di tempatku sebelum ia terbang ke Bali. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya ke Hong  Kong, Norwegia, Rusia dan Thailand yang akhirnya bertemu aku di sini. Mungkin Brikson juga mulai memahami betapa randomnya hidupku ini. Aku pun jadi berpikir... dunia ini terlalu sempit atau aku yang kegedean sih?.

Waktu menunjukan semakin siang. Brikson mulai memberikan kode agar kita tidak terlalu lama disini karna kami harus mengejar perjalanan ke Pattaya yang memakan waktu hingga 2 jam dari Bangkok. Kami berpamitan dengan Gerald. Dengan rasa berat hati aku meninggalkannya yang memutuskan tidak ikut dengan kami, karna ia harus mengejar pesawatnya ke China. Sampai jumpa Gerald. Percayalah, sesuatu terjadi karena alasan. Pun begitu dengan kita, kita dipertemukan dan dipisahkan kembali di Thailand karena suatu alasan yang Tuhan gariskan. Aku senang memiliki teman sepertimu. Kuharap kita bertemu lagi di suatu tempat diluar sana.
Aku dan Geraldine

Aku, Gerladine, dan Brikson
 
Aku dan Brikson melanjutkan perjalanan. Kami membeli tiket Van, sebuah kendaraan seperti mini bus, tiketnya seharga kurang lebih 120 bhat. Kami menerima tiket bertuliskan bahasa Thailand yang tidak kami mengerti sama sekali. Kami diminta menunggu di tempat perhentian Van, disana banyak sekali Van berbagai jurusan  berjajar. Sempat sedikit frustasi karna beberapa orang yang kami tanya enggan menjawab ketika kami bertanya Van mana yang harus kami tumpangi, mungkin karna kami bertanya dengan menggunakan bahasa Inggris, sungguh rasanya di saat-saat seperti ini aku ingin sekali bisa incang incung ngomong pake bahasa Thailand. Brikson mulai mengeluarkan ide-ide cemerlangnya. “waktu gue kuliah, ada pelajaran Pattern Match loh. Jadi kita menyamakan pola-pola tertentu dengan pola lainnya. Nih, kan kita udah pegang tiket yang ada tulisannya nah tinggal kita cocok-cocokin aja dengan tulisan yang ada di Van. Harus sama” cerocos Dosen Brikson. Hari ini aku dapet kuliah singkat dari Bapak Brikson tentang mencocokan pola. Yes. Terimakasih pak Dosen. Beberapa saat kemudian Bam!!! Ketemu. Van jurusan yang dimaksud tiket ini. Ku cocokan tulisan yang ada di tiket dengan tulisan yang ada di Van. Cocok. Haha. Bahagia rasanya.
Ini adalah tiket Van

Kami pun naik Van. Keadaan didalam Van ternyata penuh dengan penumpang lainnya, beruntung aku tidak memiliki tubuh yang gendut  tidak terlalu besar, jadi aku merasa tidak terlalu kesempitan. Setiap penumpang membawa bawaanya masing-masing ada yang membawa tas kecil, sedang dan besar. Aku menikmati sekali perjalanan ini. Ada rasa kantuk yang membuatku tertidur beberapa waktu selama perjalanan. Kemudian sampailah kami di sebuah tempat pengisian bahan bakar, SPBU namanya kalo di indonesia. Hal yang berbeda ketika kami tiba di SPBU ini. Semua penumpang turun, kami terheran-heran kenapa semua penumpang turun. Tanpa ba bi bu kami pun ikut turun.  Setelah semua penumpang turun, barulah van di isi dengan bahan bakar yang terlihat seperti gas, bukan berupa bensin cair seperti di indonesia. Aku tak tahu apa nama bahan bakar gas yang diisikan kedalam van yang kami tumpangi itu. Aku dan brikson bertanya-tanya mengapa semua penumpang harus turun pada saat pengisian bahan bakar van. Mungkin itu untuk alasan faktor keselamatan semua penumpang selama pengisian bahan bakar van. Setelah van diisi kami kembali naik, dan melanjutkan perjalan.

Google map yang ku pegang menunjukan lokasi yang kami tuju sudah tak jauh lagi, kami turun di pertigaan jalan. Mencari transportasi berikutnya menuju tempat penginapan kami yang tak jauh dari pantai Pattaya. Ah! Senang rasanya aku berhasil ke sini setelah melewati beberapa hala rintang. Kami menemukan sebuah transportasi namanya Songtheaw sebuah kendaraan yang tidak ada pintu dan jendela seperti mobil bak yang di beri atap dan kursi didalamnya. Lucu sekali kendaraan ini. Kami harus membayar 200 Bhat hingga sampai tempat tujuan kami yang sebenarnya tidak terlalu jauh dengan harga lumayan mahal. Sampai di Hostel, kami langsung cek in, selesai cek in lalu kami memasuki ruangan masing-masing. Ruangan yang terpisah. aku langsung masuk Female Dorm (khusus perempuan) dan Brikson masuk Mix Dorm (campur ini isinya). Di sini hanya menaruh tas kami, kemudian langsung keluar lagi.
Hostel tempat aku nginep

Aku di dalam Songtheaw
Female Dorm
 

Perut keroncongan, setelah jalan beberapa lama kami membeli kebab dengan harga 60 Bhat. Kebabnya enak dan yang paling penting untuku adalah halal. Di sana aku ndeso parah. Kami mendokumentasikan video perjalanan kami dari penginapan ke pantai dengan sebuah tongsis dan HP, awalnya brikson yang pegang. Tongkatnya kepanjangan bisa noyol-noyol kepala orang yang lewat nih, bahaya pikirku. Segera ku ambil alih. Dengan gaya kami aku yang macam gembel ini, (Brikson tampaknya agak keberatan disebut gembel. Yang padahal emang iya. Haha. Ampun bang!) kami menunjukan rasa bahagia kami bisa sampai ketempat ini. Ke-4L4Y-an kami tidak berhenti di sini, kami terus berjalan sampai nemu pantai pokoknya. Sampai di pantai, kami foto-foto macam gembel yang menemukan surganya. Walopun udara sore itu lumayan panas, kami mengacuhkannya. Kami menikmati pantai Pattaya sambil menikmati sebuah kelapa muda seharga 50 bhat per butirnya. Enak vroh! Menurutku kelapa disini lebih manis dari kelapa muda yang di jual di Indonesia. Entahlah, pokoknya rasanya berbeda. Sementara kami menikmati kelapa muda, datang seorang pedagang yang menawarkan dagangan jasanya aktivitas pantai yang menyenangkan. Mataku langsung tertuju dengan olahraga pantai paraseling. Aku membujuk Brikson yang awalnya menolak untuk naik paraseling, akhirnya luluh juga hati orang ini. Haha. Akhirnya kami naik boat yang dikemudikan sang pengemudi dengan sangat kencang. Paraah itu kenceng banget. Kalo kamu ga duduk dengan posisi yang nyaman ada kemungkinan badanmu pasti sakit semua duduk di boat itu meskipun durasinya hanya sekitar 5 menit. Tapi kami sangat...sangat... menikmatinya, aku duduk di depan boat yang langsung keciprat-ciprat air laut Pattaya. Seruuuu! Sampai di tengah dermaga kami diarahkan untuk menggunakan pengaman terlebih dahulu. Sebelum di seret boat aku diinstruksikan untuk berlari pada saat di tarik boat. Deg deg an! >.< sang pemberi aba-aba mulai mengitung “one... two... three. Run!!!”. Aku berlari dan mulai merasakan kakiku sudah tak menapak lagi. Aku terbang! Terbaaang! “Woohooooo......” aku berteriak sekencang-kencangnya, lepas rasanya. Membuka mata di atas langit sambil ditarik dengan boat, melihat pemandangan sekitar, membiarkan diri ini diterpa angin sore Pattaya. “Subhanallah... Alhamdulillah... laa ilaa ha ilaa laah... Allahu Akbar....” hanya tasbih, tahmid, tahlil, takbir yang keluar dari bibir ini saat berada di atas langit sore laut Pattaya. Durasi terbang memang tidak lama, hanya sekitar 15 menit tapi, rasa yang tidak bisa dilupakan adalah harga yang tidak bisa di bayar dengan apapun. Kerinduan akan hal seperti ini yang akan kau rindukan ketika kau kembali ke rumah :’)

in Frame : Brikson

in Frame : Brikson (lagi)

in Frame : Brikson lagi lagi

in Frame : Brikson terus :(
pesan ku untuk Brikson: rajin-rajinlah ngoprek kamera, karna gambar yang kau ambil blur semua :(

            Selesai terbang, kami di tawarkan oleh pemilik boat untuk ikut dermaga dipinggir pantai, kami pun langsung meng-iya-kan. Turun di dermaga, ada banyak sekali rombongan orang dari berbagai negara berlalu lalang, terlihat seorang tour leader di depan setiap rombongan yang membawa bendera dari setiap rombongan negaranya. Di sana ramai sekali. Aku dan Brikson mengabaikan keramaian yang ada. Kami foto-foto di sana.
Pantai Pattaya

PATTAYA

            Setelah puas mengambil beberapa banyak gambar, kami berjalan menyusuri jalan sekitaran dermaga. Keadaannya mulai berbeda dengan keadaan ketika kami datang, susananya semakin ramai, lampu-lampu mulai nyala, toko-toko semakin ramai, orang berlalu lalang, musik-musik di pingkiran jalan saling berlomba-lomba mengerasakan volumenya, penjual pinggiran jalan mulai ramai didatangi banyak pembeli yang menawar barang dagangannya dengan berbagai bahasa negaranya masing-masing, ada juga pub-pub yang kulihat mulai beroperasi. Tempat ini semacam Bali kalo di Indonesia, banyak sekali turis. Dan tempat-tempat orang mencari “kesenangan” duniawi. Bedanya mungkin disini lebih vulgar dari pada yang ada di Bali. Rasa penasaran aku dan Brikson membawa kami berjalan menyusuri setiap lorong jalanan Pattaya, banyak hal yang membuatku merasa Shock Culture. Mitos-mitos tentang lelaki yang cantik di Thailand yang biasa disebut Lady Boy bisa ku lihat di sini. Mereka cantik sekali. Aku sebagai wanitapun berpikir mereka cantik, apalagi mungkin para kaum adam yang melihat. Tapi sayangnya mereka tidak “original”. Astagfirullahaladziim... aku melihat dengan mataku sendiri apa yang di sebut-sebut dalam al-qur’an ciri dan tanda kiamat. Yang salah satunya adalah lelaki berpenampilan seperti perempuan.

            Tak betah rasanya berlama-lama di tempat itu, kubiarkan brikson jalan menikmati apa yang ingin ia nikmati sendiri sendiri. Aku meninggalkannya dan aku memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk mandi, selesai mandi aku keluar lagi. langit Pattaya malam itu semakin gelap, namun terlihat terang karna banyak taburan bintang-bintang. Aku melihat langit sambil tersenyum.... seraya berterimakasih pada Yang Maha Kuasa karna cuaca saat itu sangat bersahabat untukku menikmati kota Pattaya. Sebuah tempat jasa pijat menarik perhatianku, karna pakaian pegawainya yang sopan dan tempat yang terlihat dari luar sangat nyaman. Thai Massage. Begitu tulisan yang kubaca dari pintu tokonya. Aku masuk kedalam dan menunjuk menu pijat Thai Massage, seorang wanita muda datang dengan sapa senyum hangatnya. Kemudian dia menjelaskan apa itu Thai Massage dengan bahasa Inggris seadanya, yang kucoba pahami sambil tersenyum. Durasi pijat 1 jam dengan harga 150 bhat. Harga seharusnya adalah 100 bhat per jam. Tapi karna aku datang ketika tempat itu mau tutup pukul jam 11 malam, jadi aku harus membayar lebih. Tidak menyesal, karna Thai Massage bener-bener recommended. Badan lelah dan cape ini sungguh termanjakan oleh Thai Massage yang aduhai alamahoooi bikin ketagihan. Teknik-teknik mereka pijat badanku sungguh unik dan tak biasa. Agak sedikit extreem menurutku tapi bikin ketagihan. Haha

            Tenggorokanku agak tak enak malam itu, aku sudah merasa tak enak badan. Mungkin karna terlalu lelah badanku terasa sangat butuh istirahat dan membuat sistim immunku menurun. Aku memutuskan untuk membeli obat di apotik yang tak jauh dari penginapan. Setelah itu kuputuskan untuk tidur. Bangun pagi dengan keadaan tenggorokan yang semakin memburuk. Rasanya sakit untuk menelan, ditambah sedikit flu. Aku mengecek box P3K yang ada di tas, meminum obat untuk meredakan ini semua. Pagi itu aku dan Brikson kembali ke Bangkok dari Pattaya dengan menggunakan bus. Kulanjutkan tidurku di dalam bus. Brikson bilang tidurku sangat lama saat itu. Ya, mungkin aku memang kelelahan. Setelah sampai pemberhentian bus terakhir. Aku berpisah dengan Brikson. Kami memutusakan untuk menggunakan Grab Bike dengan arah yang berbeda menggunakan aplikasi yang ada di HP kami masing-masing. Hal yang tidak aku pikirkan tiba-tiba terjadi setelah aku memesan Grab Bike lewat aplikasi di Hpku, sang mengemudi Grab Bike meneleponku dengan bahaa Thailand yang tidak aku mengerti. Aku melotot ke arah Brikson sambil geleng-geleng. Ga kehabisan akal aku mencegat orang Thailand yang lewat didepanku, entah siapa akupun tak mengenalnya. Aku memaksa dia untuk berbicara dengan driver Grab Bike yang menelepon nomor Thailand yang kugunakan diponselku. Ia terlihat sedikit shock saat ku mintai tolong secara paksa. Maafkan aku ya pak. Habis aku mentok banget nih. Haha. Akhirnya sang penolong itupun menjelaskan dengan bahasa tubuhnya bahwa sang Grab Bike akan segera datang ke tempat diamana aku menunggu. Tak lama kemudian sang driver Grab Bike datang dengan helm yang dia berikan padaku setelah memastikan bahwa akulah sang pemesan Grab Bike. Ini adalah cara bertahan hidup paling extream yang kulakukan setelah menginap di tempat orang yang tidak pernah aku tahu dan kenal sebelumnya. Sungguh, kalo bukan karena campur tangan Yang Maha Kuasa saat itu, mungkin hari-hariku selama di Thailand tidak akan selancar ini. Alhamdulillah... lagi-lagi, Nikmat manalagi yang kau dustakan Faaat?.



 Hari itu aku memutuskan untuk pergi ke Madame Tussauds di Siam Center, karena tiket early bird yang sudah terlanjur kubeli ketika masih di Indonesia tempat dimana kita bisa melihat patung lilin, patung orang-orang terkenal seperti Soekarnao, Mozart, Christiano Ronaldo, Einstein, group band The Beatless dan juga ada aktor ganteng rasa lemon kesukaanku, Mario Maurer... aduuuh... bang, kau membuatku meleleh meskipun kau tak nyata bang... aduh abang, kapan atuh meminangku dengan bismillah? Eh. UHUK, batuk pake TOA. Tapi aku yakin kalopun kami bertemu secara nyata, cinta kami tidak akan bersatu karna kami berbeda keyakinan. Aku yakin suka dia, Dia ga yakin suka aku. Berbeda keyakinan. Memang. Sakit.
Aku dan bang Mario Maurer (Boongan)



 

Selesai melihat-lihat patung lilin aku nonton 4D di Discovery Siam Center. Wahaha... biasa aja rasanya, tidak sesuai expektasi. Aku lebih suka aktivitas yang memacu adrenalin, olahraga extreem, dan sesuatu yang berbeda dari pada sekedar duduk diam mendengarkan pidato orang-orang berdasi.
Selesai dari Madame Tussauds aku memutuskan makan siang didalam food court di dalam Mall Siam Center. Jadi Siam itu seperti kota kecil yang ga jauh dari Bangkok. Aku memesan Padtai makanan seperti Mie Kwe Tiaw kalo di Indonesia, yang Halal dan Kelapa Thailand dengan 200 bhat kurang. Lagi-lagi kesulitanku di sini selain bahasa, aku juga kesulitan mencari makanan halal di tempat manapun di Thailand selama aku traveling. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk bersolo trip. Justru hal-hal semacam ini menjadi kenikmatan tersendiri ketika kita bisa melewatinya. Selesai makan, aku menghubungi teman yang belum pernah bertemu dan berencana untuk bertemu hari itu. Bigg namanya, seorang lelaki mudah Thailand yang berprofesi sebagi apoteker, hari itu aku bertemu dengannya. Ia membawa 2 traveler dari China yang sama-sama sedang berlibur di Thailand, nama keduanya sungguh sulit diucapkan oleh lidah ke-indonesia-an-ku ini sebut saja namanya Emon dan Dadang (bhahaha... enak banget ya aku ngubah-ubah nama orang) sungguh nama China mereka sulit sekali di ingat dan diucapkan. Terakhir yang aku dengar pada saat mereka mengucapkan hanya “SANG SENG SONG SUNG dan CAP CAY TANG CIN hesemeleeh hesemeleeh...” itu lah yang kudengar setelah 3 kali mereka mengulagi mengucapkan nama mereka. Ah! Sungguh melelahkan dan sakit kepala memikirkannya. Ya sudahlah, yang terpenting toh hal ini tidak masuk soal Ujian Nasional. Singkat cerita Emon, Dadang, Bigg dan Aku pergi ke Asiantique Riverfront, sebuah mall outdoor yang berada di pinggir sungai Chao Prao yang tak jauh dari lokasi makan malam kami. Saat itu Bigg yang memberi instruksi dengan apa kami pergi ke sana, sebelum akhirnya Bigg meninggalkan kami bertiga, karena Bigg harus ke gereja. Tersisalah aku, Emon dan Dadang. Mereka berbicara bahasa cina yang tidak aku mengerti sama sekali, yang kudengar hanya seperti suara orang kumur-kumur. Emon dan Dadang asyik ngobrol berdua seolah-olah pada malam itu mereka merencanakan untuk mengambil alih kekuasaan Obama. Lucu sekali memperhatikan keduanya berbicara dengan mata sipitnya. Emon, Dadang dan Aku menyebrangi sungai dengan menggunakan perahu berhiaskan lampu gratis yang bisa kami tumpangi hingga sampai di Asiantique.

Sesampainya di Asiantique kami berpencar karna Emon dan Dadang mau belanja, sedangkan aku tidak tertarik untuk belanja. Aku hanya ingin menikmati udara malam Thailand dan Asiantique Riverfront yang bermandikan cahaya lampu kelap kelip malam itu.



 

Tiba-tiba.... entah terikat janji sumpah tumpah darah apa antara aku dan Brikson, kami bertemu (lagi) di Asiantique. Duo gembel yang ngegembel di Thailand kini bertemu kembali, dan kisah ke-gembel-an kami berlanjut, foto-foto, jalan-jalan, ngobrol sana sini sampai kami merasa lelah dan memutuskan untuk pulang dengan menggunakan boat gratis yang sama ketika aku sampai ke tempat ini. Brikson bilang aku orang yang kikir karna maunya yang gratisan mulu. Haha! Brikson ini jujur sekali orangnya, apa adanya, dan agak bocor. Aku suka pribadinya yang seperti ini, walopun kadang-kadang ingin ku lempari batu kepalanya. -_- Ku beritahu Brikson, inilah gaya backpackeranku bukan masalah aku kikir atau tidak, yang terpenting adalah ketika kita bisa dapet gratisan kenapa engga. Betul? Betul. (nanya sendiri, jawab sendiri).

Dari BTS Sapan Taksim aku berpisah dengan brikson saat kami turun BTS yang berbeda. Brikson turun di daerah Sukumvit, dan aku melanjutkan ke pemberhentian terakhir. Menuju rumah Bart, host keduaku yang sangat baik. Ia sudah ku anggap seperti kaka ku sendiri. Aku mengirim pesan singkat pada Bart, mengabari kalo aku sudah di jalan menuju kerumahnya.

setelah sampai di pemberhentian BTS terakhir, aku menuju rumah Bart (lagi-lagi) menggunakan Grab Bike. Kali ini aku sudah mulai berpengalaman menggunakan aplikasi ini di Thailand. Ku datangi orang Thailand yang kelihatannya bisa bahasa inggris, ku jelaskan bahwa aku ingin memesan Grab Bike, driver Grab Bike biasanya akan meneleponku dalam bahasa Thailand, “Could you help me please to talk to the Grab Bike’s driver?” tanyaku pada seorang wanita muda yang berdandanan kemeja ala kantoran sangat rapih dan terlihat sangat berpendidikan. “sure, with my pleaseure.” Katanya sambil tersenyum. Yes! Sudah kuduga dia pasti mengerti bahasa Inggris. Haha. Bahagia rasanya. Ia membantuku berbicara via telepon dengan driver Grab Bike, “Okay, i’ve told the driver to pick you up here. You just need to wait for a few minute infront the gate one.” Ia menjelaskan sambil mengarahkanku untuk keluar pintu satu. Aku tersenyum dan menjabat tangannya “Thank you for your help.” “you’re welcome” balasnya sambil menjabat tanganku dan tersenyum. Aku keluar pintu dan menemukan driver Grab Bike sudah menunggu. Ia mengantarkanku ke alamat yang pernah Bart berikan padaku sebelumnya. Kemudian sang driver meninggalkanku setelah aku membayar 33 bhat.

Aku menelepon Bart, dan memberitahu bahwa aku telah sampai ke alamat yang pernah ia berikan. Namun agaknya aku salah alamat, dan Bart menjemputku yang ternyata rumahnya tak jauh dari tempatku menunggu. Mobil putih Bart sudah terlihat samar-samar dari jauh, ia turun dengan menggunakan kemeja rapihnya. “Hei, Fatimah where have you been? Look at you! Haha. You’re here. I thought you won’t reach my place or lost away. How could you reach this place?” ekspresi Bart saat itu benar-benar terkejut dan sedikit tak percaya menemukanku di tempat yang tak biasa, Di sebuah kuil kecil jauh dari keramaian sedikit masuk gang sempit di depan sebuah perumahan. “I was using Grab Bike, Bart. A thai lady help me to talk to the Grab Bike’s driver because he spoke in Thai and i don’t understand then he drove me here, the addresse that you’ve sent to me. And finally i’m here.” Jelasku. “whaaat??!!! Haha. What a brave girl are you? Of course there is no Grab Bike’s driver who can speak English as I speak as to you now. You’re really a tough surviver. Amazing! I never found a girl like you. It’s like very unusual for me personaly anyway. Hahaha” rasanya kali itu Bart puas sekali mendengar ceritaku sambil terheran-heran kenapa ada mahluk macam aku. Bart membawaku ke rumahnya, yang ternyata aku sudah ditunggu-tunggu oleh ayah dan ibunya.

Keluarga Bart menyambutku dengan ramah ayahnya yang ku panggil Uncle bisa beberapa kata dengan bahasa Indonesia dan aku sangat terkejut sekaligus bahagia dan ibunya yang ku panggil Aunty mempersilakan duduk di ruang keluarga. Masih teringat jelas dalam memoriku wajah Aunty yang selalu tersenyum saat bicara denganku, ia sangat senang sekali aku datang kerumahnya. Aku di sambutnya seperti anak perempuannya yang lama tak pulang ke rumah. Bart bilang bahwa ibunya senang sekali waktu saat tahu aku akan nginep di rumahnya. Mungkin karna ibunya tidak punya anak perempuan karena Bart adalah anak laki-laki semata wayangnya.

Malam itu di ruang keluarga Bart, Aunty, Uncle dan Aku duduk satu meja.  Mereka seperti sangat ingin tahu cerita petualanganku selama di Thailand. Aunty dan Uncle bertanya bagaimana aku bisa sampai Thailand, sudah kemana saja aku selama ini, apakah orang tua ku tidak khawatir di rumah, kenapa aku sangat berani, bagaimana bila ada orang jahat, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Pertanyaan yang sudah selazimnya ditanyakan seorang orang tua yang seperti merasa khawatir pada anaknya. Saat itu Bart berfungsi sebagai translator antara aku dan orangtuanya. Aku menjelaskan dari A-Z. Expresi orang tua Bart adalah terbengong-bengong ketika selesai mendengar penjelasanku yang di-ranslate-kan oleh Bart. Kekhawatiran Aunty semakin menjadi-jadi, ia menyuruh Bart untuk selalu mengantarku kemanapun aku pergi selama di Thailand agar aku tidak tersesat, tidak kelaparan, tidak kepanasan, dan tidak kesusahan. Haha. Ini sangat berlebihan menurutku. Aku datang ke Thailand ini bukan untuk menjadi tuan putri. Aku datang dan tinggal di rumah warga lokal Thailand adalah untuk benar-benar ingin belajar budaya, bahasa, kebiasaan, dan cara hidup orang Thailand yang sesungguhnya itulah alasan mengapa aku ingin tinggal di rumah ini. Karena aku tahu Bart dan keluarganya adalah orang lokal asli Thailand. Dan kesempatan yang aku sebutkan diatas adalah kesempatan yang bisa aku dapatkan  ketika aku tinggal dirumahnya itu. Aku meminta Aunty untuk tidak khawatir, aku menjelaskan aku bisa melindungi diriku sendiri, karna aku membekali diriku dengan olahraga beladiri karate, aku tidak akan tersesat karna aku bisa bertanya pada orang, dan memiliki berbagai aplikasi penunjuk arah di ponselku, aku tidak akan kepanasan karna aku membawa payung, aku tidak akan kelaparan karna aku bisa menemukan minimarket untuk membeli beberapa roti dan makanan halal lainnya yang bisa aku dapatkan, aku tidak perlu di antar karna aku bisa menggunakan transportasi umum yang banyak jenisnya di Thailand ini dan aku menikmatinya. Kujelaskan semua itu pada Aunty dan Uncle. Alhamdulillah mereka mengerti, walau terkadang Bart menjelaskan Ibunya itu sering memaksanya melakukan apa yang diperintahnya untukku. Dan sering kali aku menolak, karna aku tau itu akan sangat merepotkan Bart. Sungguh aku ingin hidup sederhana apa adanya, bukan hidup seperti putri raja. Malam itu sudah sangat larut. Aku mematikan lampu kamarku. Selamat malam. Sampai besok.

Kamis, 05 Mei 2016

GET LOST IN THAILAND part 1

     
"Sawasdee....." sapa hangat dari seorang wanita setengah baya ketika pertama kali aku turun dari pesawat. Kulempar senyum hangat padanya. Terdengar juga suara-suara dengan bahasa yang tidak aku mengerti dari berbagai pengeras suara yang ada di bandara Dong Mueang, Thailand. Aku tersenyum dan sedikit tertawa mengikik. Lucu rasanya bisa mendarat di sini. Di Negara, Tempat dan Bahasa yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. 

     10.45 Waktu Thailand aku mendarat. mengamati sekitar dan antree di depan platform "FOREIGNS PASSPORT CHECK" didepan meja aku menatap petugas imigrasi wanita yang meminta kertas berisi informasi tentang data diriku, dimana aku akan tinggal, pesawat apa yang telah aku tumpangi.
kusodorkan kertas itu, beberapa saat kemudian dia balik bertanya tentang kolom yang berisi informasi dimana aku akan tinggal selama aku di Thailand.
sengaja aku kosongkan karna aku mendapat alamat dimana aku akan tinggal dalam bahasa dan tulisan thailand. haha. aku hanya berkata "I wanna write this (sambil nunjukin tulisan Thailand itu) but i can't. could you help me please?" sambil memelas. Dia melihat tulisan di HP ku, tersenyum dan berkata "ahaa..., yes. sure you can't. because you're not a Thai." dan akhirnya dia membantu.

Rabu, 06 April 2016

Ulang tahun ibu

Kemarin ulang tahun ibu. Perayaan  sederhana yang sangat berkesan. Aku melihat wajah yang sudah mulai menua. Tubuh yang mulai lelah. Tapi aku melihat binar keikhlasan dari sorot matanya. Ibu. Ah ibu.... sehat terus ya bu. Biar bisa jadi nenek dari anak-anaku. :)

Jumat, 01 April 2016

Gunung Papandayan

Apa yang bisa saya katakan tentang perjalanan kalu ini adalah luar biasa. Pesona gunung papandayan sungguh membuat lisan ini bertasbih, tahmid, serta bertahlil sepanjang perjalanan saya. Sangan sesuai dengan ekspektasi saya.

This feeling is much too strong

Senin, 29 Februari 2016

BODY RAFTING

 
body rafting di Sienjang Lawang
Haloo..... sudah lama rasanya ga posting. Blog udah penuh sarang laba-laba, semakin lama ga nulis akan semakin malas, padahal banyak banget yang pengen aku ceritain di sini. 1 Maret 2015 lalu aku dan teman-teman backpacker dari Bandung sempet main ke wisata yang baru-baru ini di buka yaitu body rafting di sienjang lawang. Lokasinya ga jauh dari pantai pangandaran. Mencoba menikmati setiap kilometer perjalanan yang lumayan dari bandung ke sana. Dengan berbekal tas ransel orange yang sering aku bawa-bawa sampe dekil dan sepatu snikers yang udah mangap-mangap aku nekat ngegembel ke sana. haha.

D : “fat, dimana? Lagi sibuk ga? Nge-gembel yuuk...”

Aku : “ kapan sih aku sibuk? Sibuk mikirin tanggal muda, iya! Haha. hayuuuk... kemana mba?”

D : “body raffting di sienjang lawang daerah pangandaran. Ikut?”

Aku : “hayuuuk, budget berapa? Naik apa? Sama siapa aja? Dan berapa hari? Berangkat jam berapa?”

D : “ibukk nanyanya 5W1H ya!. Haha. Budget serpihan yang ada di dompet aja, naik mobil tebengan, sama gembel-gembel lainnya, berangkat jam 5 sore ini, cuma 2 hari semalem.”

Aku : “haha... oke sip meluncur.”

Sebenernya saat itu aku ga kebayang body rafting itu kayak apa, Cuma hasrat emang ingin jalan-jalan jadi aku meng-hayuuk-kan saja ajakan temanku ini.

Jam 17.00 WIB. Belum ada tanda-tanda merka dateng ngejemput,

Jam 18.00 WIB. HP masih sepi kayak kuburan, dan aku udah siap mau berangkat yang pada akhirnya leha-leha dulu.

19.00 WIB. “fat, tunggu depan griya pasteur ya” satu pesan masuk, aku senyum dan langsung pamit sama ibu kost buat berangkat.

20.00 WIB. “mba dimenong? Ngana sudah standby di tempat sebelum belanda mendekat dan negara api menyerang.” Aku nunggu sambil nyeduh pop mie di griya (toserba) tempat aku di suruh nunggu.

21.00 WIB. “Mba dimanaaa?” mulai kesel karna nunggu lama.

21.30. WIB. “didepan km keluar gih...”

Jreeeeeng...... Janjian jam 17.00 WIB dateng jam 21.30 WIB. Cerdaaas. Welcome to Indonesia. Ini lah negeri dimana jam bisa jadi karet.... (baca : NGA – RET)

Singkat cerita berangkatlah kita, setelah lala lili ga jelas. Sampe tempat tujuan. Eh, ngga ding... kita ngelancer dulu ke pantai pangandaran buat berburu sunrise, ceritanya.... tapi pada akhirnya kita ga dapet sunrise karna kita diem di arah yang berlawanan dari sunrise. Great! Jenius. And we got nothing.


menikmati setiap 'ketersesatan' akibat ga tau jalan
sampe di Sienjang Lawang
persiapan alat pengaman beres.
mengikuti arus sungai dari hulu ke hilir
polanya hancur karna arus sungai yang lumayan deras.
Dan ini adalah garis finish kita :) Goa Sienjang Lawang

 
Team
keadaan di dalam Goa




gagal liat sunrise










Sebenernya, di dalam Goa ini banyak stalaktit dan stalagmit. Sayangnya tidak di dokumentasikan oleh sang mengambil gambar L
FYI buat wisata ini banyak banget travel agen tour yang menawarkan harga beragam yang menurut aku pribadi mahal bingiit. Haha. Ya... sekitar 300ribu ke atas per kepala. Tapi karna kita dateng bukan dengan tour travel agen manapun kita cuma harus bayar 30 ribu sajah permisah! Haha. Murah meriah. Inilah nikmatnya jadi ‘gembel’. Ga perlu bayar mahal untuk sesuatu yang ‘mahal’. Haha. Ini yang bikin aku ketagihan jadi backpacker.
Udah beres body rafting kita di tawarin warga lokal setempat buat beli buah tangan yang bikin aku senyum-senyum sendiri mengingat hal ini. Kita di tawarin beli rambutan yang kebetulan sedang berbuah lebat dan sudah saatnya di panen. Hanya dengan 6 ribu rupiah kita bisa dapet rambutan satu karung, plus makan di tempat, plus kalo lu mau lu bisa bawa sama pohon beserta akar-akarnya. Gokil vroh! :v

 
 


 























Belum lagi buah tangan durian yang aduhai.... buahnya tebal dan manis. Harganya Cuma 15 ribu/butir yang sebenernya bisa di tawar lebih murah lagi. Haha. Tapi aku ga tega nawarnya. Pasalnya kalo di tempat aku durian dengan kualitas seperti itu dan dengan harga itu cukup ga masuk akal, jadi di sini aku memutuskan untuk tidak menawar harga.
sekian dulu cerita kali ini. (SFH)

"JANGAN LUPA BAHAGIA"

SALAM SINGKONG
 
 
 















 

Selasa, 10 Februari 2015

Snorkeling dan Pulau Tidung


salah satu spot snorkling di pulau tidung
Snorkeling adalah cara sesorang menikmati keindahan dalam laut dengan mengambang di permukaannya. Berbeda dengan diving, kalo diving itu lebih ke menyelamnya. Aku ga akan ngejelasin secara text book apa itu snorkeling dan diving, bagaimana tekniknya dan bla bla bla. Aku pengen share aja pengalaman pertamaku snorkeling. :’)

Jadi waktu semester awal kuliah aku sudah merasakan hawa-hawa ga enak dari jurusan yang aku ambil ini, kayaknya ‘hari libur’ itu bakal jadi hal yang langka. Jadi setiap ada hari libur aku selalu merencanakan destinasi untuk ngebolang. Karena aku si anak singkong yang terlahir unutk bertualang. Hehe. Ceritanya berawal dari kakaku yang iseng-iseng cari paket travel ke pulau tidung lewat twitter. Nah kalo ga salah nemu tuh namanya barokah travel. Eh, bener ga ya? Lupa lagi ding. Nah, pkoknya tarvel yang menyediakan jasa traveling gitu lah ya. Haha. Nah, travel ini recommended banget gan. Kenapa? Kita dapet paket ke pulau tidung 3 hari 2 malam dengan hepeng kurang dari 400rb gan. Kalo buat turis kere macam aku ini adalah hal yang menyenangkan. Tau ga apa? (engga.) eh kan aku belom cerita, jadi mau tau ga nih? (iya, mau). Haha.

Senin, 02 Februari 2015

AU PAIR






EROPA. Apa yang temen-temen pikirin kalo denger kara EROPA? Paris? Menara eifel? Jerman? Club sepak bola? Belanda? Kincir angin? Swiss? Polandia? Ato temen-temen ada yang punya mimpi pengen sekolah di EROPA, punya temen-temen bule kaya yang di film-film, ingin merasakan salju? seperti apa yang aku impikan juga? Tapi temen-temen ngerasa minder sama bahasa inggris yang tamen-temen bisa, bingung gimana cara sampe ke sana karna budget yang ga memungkinkan? Itu juga hal yang sama, yang aku pikirin. Tapi.... Don’t worry be happy temen-temen. Everything gonna be okay :D


Ada banyak jalan menuju eropa, mungkin temen-temen ada yang kuliahnya di jurusan bahasa, ato sebagai traveler, ato bolang-er seperti aku? Pasti ga asing kalo denger kata AU-PAIR kan? Atau baru pertama denger? Ga apa-apa wajar. Tanpa berbasa-basi lagi yuk, kita kupas (bawang emangnya? Wkwk). Apa itu AU PAIR?

Jumat, 28 November 2014

A home away from home





Judulnya berasa judul film ga sih? Ahaha... ga papa lah. Yang penting nulis.
         Jadi gini, berawal dari gaya hidup anak kosan yang kerjaannya kuliah pulang kuliah pulang di (baca: KUPU-KUPU). Hidup udah terasa enak banget. Tiap bulan tinggal nunggu kiriman. Ga pernah mikir gimana susahnya nyari duit. Ah fatimah! Asli ga guna banget hidup lu. Sempet kepikiran buat bilang sama orang rumah untuk jangan transfer. Tapi.... lagi-lagi belum berani. Takut inilah, takut itulah. Aku sadar, itu semua karna aku ngerasa comfort zone lebih baik buat aku. Meski pada dasarnya aku ini pribadi yang suka ngambil risiko.  Ini mental si anak singkong? Ah payah!
Dan dunia kuliah kebidanan yang semula ku anggap enak, berubah... ketika jadwal praktik padat. Kontak dengan banyak pasien, dengan berbagai lapisan masyarakat yang ternyata merubah cara pandangku tentang hidup.
Sering banget mikir, kenapa orang lain bisa gini, kenapa orang lain bisa gitu. Tapi kok, aku gini-gini aja?
Hingga pada akhirnya aku menjalani Praktik Peningkatan Kesehatan Masyarakat Desa.
Pernah nonton acara tv ‘Jika Aku Menjadi’? nah, kurang lebih seperti itu tapi aku datang dengan misi meningkatkan kesehatan masayarakat desa. Kebetulan waktu itu aku di masukin ke desa Cibedug, Cikole Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung barat. Tempatnya agak sedikit pedalaman.